Puisi Tentang Keindahan Alam, Nyanyian Seorang Petani

Puisi Tentang Keindahan Alam 

Sebagian besar sajak yang dimuat dalam antologi ini sebenarnya telah muncul dalam antologi-antologi pada tahun 1967 - 1990, periode ini merupakan masa-masa subur kepenyairan, sebelum terbenam dalam kegiatan akademis dan ilmiah pada dekade berikutnya. Selama masa subur itu pula banyak terjadi perubahan dalam kepenyairan saya, khususnya menyangkut gagasan dan titik tolak penulisan, motif, dan wawasan estetik yang mendasari penciptaan sajak-sajak tersebut. Tetapi rasanya semua itu tidak penting dikemukakan di sini. Yang penting adalah kehadiran sajak-sajak itu sendiri sebagai sajak, sedangkan bentuk apresiasi dan penafsiran terhadap sajak-sajak itu sepenuhnya terpulang kepada pembaca dan para kritikus sastra.

Sekalipun demikian, dalam pengantar ini saya merasa wajib memberikan suatu bekal kepada pembaca tentang apa itu puisi, setidak-tidaknya dilihat dari sudut pandang tertentu yang saya yakini benar hingga sekarang. Untuk itu, izinkanlah saya meminjam pandangan atau sudut pandang penyair lain dan beberapa teori tikus/ kritikus yang pada umumnya merasa lebih mengerti tentang puisi dibanding penyair itu sendiri.

Rainer Maria Rilke, seorang penyair terkenal Jerman awal abad ke-20, pernah mengatakan agar penyair menulis dalam keheningan. Meskipun saya tidak begitu mengerti yang dimaksudkan Rilke, saya dapat memahami arti penting pernyataan itu. Hanya dalam keheningan kesadaran terdalam seseorang bisa tersingkap dan mendapat pencerahan. Dan hanya dengan demikian pula situasi eksistensial dirinya dapat direnungi dengan jemih. Puisi yang baik, dalam pengertian otentik, bisa lahir hanya dalam keadaan-keadaan seperti itu. Apa pun jenis puisi itu, sekadar lirik atau puisi sufistik, atau bahkan juga sajak-sajak yang bercorak filosofis dan kontem-platif.

Dalam saat-saat hcning, seorang penyair merasa berada di dunia lain di luar keberadaannya sehari-hari, di rumahnya sendiri yang kata Hagivvara Sakutaro penyair Jepang sebelum Perang Dunia II—merupakan rumah metafisis atau transendentalnya. Di rumahnya sendiri itulah ia bisa melihat segala sesuatu mengalami perubahan dan menampakkan diri dalam perspektifnya sendiri dan mengikut hukum-hukumnya sendiri. Yang dahulunya di-anggap objektif kini menjadi subjektif. Yang semula dirasakan bersifat pribadi dan subjektif kini menjadi universal dan objektif. Realitas menjadi fiksi dan penuh dengan fiksionalitas. Demikian-lah semuanya mengalami “semacam” peralihan dan perubahan, transformasi dan transmutasi.

Karena bahasa puisi adalah bahasa figuratif, kata Paul Ricoeur, maka ungkapan puitik dalam dirinya memadukan makna dan ke-sadaran, dan inilah yang membuat fiksionalitas teks sastra, khusus-nya puisi, menghadirkan pengalaman yang begitu hidup dan memberi kesan mendalam bagi pembacanya. Semuanya itu dicapai dalam keheningan, dalam situasi paling otentik dan eksistensial dari kehidupan seseorang. Hanya dalam keheningan ungkapan-ungkapan puitik memutik dan bertunas, untuk kemudian tumbuh dan mekar. Kata-kata muncul, kadang-kadang terasa alot dan sukar, kemudian dirangkai setelah dipilih dan ditimbang se-demikian rupa, serta direnungi dalam-dalam.

Dalam satu dua hal, saya sependapat dengan Abdul Qahir al-Jurjani, teoritikus dan pengasas strukturalisme Arab-Parsi abad ke-12 M, yang mengatakan lebih kurang bahwa “Komposisi puitik 0nazm) merupakan penuturan tidak langsung menggunakan bahasa figuratif (majaz) dalam menyampaikan suatu pesan atau idea sehingga membentuk suatu bangunan kejiwaan atau ke-rohanian yang terstruktur sedemikian rupa”.

Penuturan tidak langsung yang dimaksud hendaknya di-pahami sebagai “penuturan simbolik”, yang selain menimbulkan berbagai nuansa puitik juga menurunkan makna yang berbagai-bagai kepada pembaca yang berbeda-beda.

Unsur-unsur utama puisi yang membangun keseluruhan struktur kerohanian ialah citraan (tasybih), simbol (mitsal), dan metafora (isti'ara). Melalui kesalingterkaitan unsur-unsumya ini secara kompleks, bangunan keseluruhan dari sebuah komposisi puitik tercipta. Al-Jurjani memberi contoh sebuah larik dari puisi Arab abad ke-10 M yang begitu hidupnya dalam mengungkapkan “keriangan kalbu penyair menyaksikan keramaian kota Mekkah pada musim haji. Puluhan ribu jemaah berdatangan dari segala penjuru, dari negeri dekat maupun jauh, memenuhi kota Mekkah dan lereng-lereng bukit sekitar kota itu. Keriangan kalbu itu di-ungkap dalam dua baris sajak:

Lereng bukit dan lembah-lembah


Dirimbuni oleh leher dan punggung unta

Inilah contoh bahasa figuratif yang efektif menyampaikan pengalaman estetik yang dirasakan si penyair. Puisi ini tidak ber-bicara kepada pikiran, tetapi mula-mula kepada indra kita yang kemudian meneruskannya kepada perasaan dan hati. Al-Jurjani lebih jauh mengatakan bahwa puisi adalah makna yang menurunkan makna-makna. Jalinan struktural kata-katanya memberi kesan asosiatif yang beranekaragam bagi pembaca yang berbeda-beda. Pembaca yang mampu menangkap sugesti atau isyarat yang tersembunyi di belakang ungkapan lahir sebuah puisi tidak akan berhenti di permukaan.

Kalau hendak dijelaskan dengan cara lain ialah dengan memberi contoh bagaimana kita menghidupi dan memberi makna terhadap pepatah-pepatah yang ada dalam masyarakat kita. Misalnya, bagaimana kita memberi makna pepatah seperti ‘Tidak ada rotan, akar pun jadi”, “Memercik air di dulang, tcpercik muka sendiri”, “Nila setitik rusak susu sebelanga”, dan “Kalau tidak ada berada tidak akan tempua bersarang rendah”. Pepatah-pepatah tersebut tidak hanya berbicara tentang rotan dan akar; tentang air, dulang dan muka seseorang, tentang nila dan susu di belanga, tentang burung tempua dan sarangnya yang rendah. Ia berbicara tentang sesuatu yang lain yang berada di sebalik dan di seberang ungkapan lahimya. Itulah pesan atau makna yang ingin disampai-kan melalui pepatah-pepatah itu. 

Di belakang pepatah-pepatah ini sebenarnya ada sebuah konsep kunci estetika yang berlaku secara universal. Konsep kunci itu ialah “melihat sesuatu melalui sesuatu yang lain”. Penuturan tidak langsung dalam komposisi puitik seperti dikatakan Abdul Qahir al-Jurjani sebenamya merujuk pada itu. Sarana utamanya ialah citraan, simbol, dan metafora. Itulah sebabnya dalam hampirsemua peradaban dunia, puisi tidak pemah dipandang sebagai “peniruan atau mimesis atas kenyataan objektif \ dan juga bukan sekadar “luapan ekspresi”, karena sebelum diekspresikan ia terlebih dahulu mengalami proses tertentu menyangkut keija intuisi dan imajinasi. Mungkin akan lebih tepat bila dikatakan bahwa puisi sebenamya hanyalah kias, metafora, tamsil atau perumpamaan. Kias tentang apa saja yang dialami dan dihayati penyair sebagai bagian penting dari situasi keberadaannya.

Sekali lagi, perbolehkan saya mengutip pandangan teoritikus lain. Kali ini pendapat Wang Fu-chih, seorang teoritikus sastra Cina abad ke-18 M, untuk menjelaskan persoalan ini. Pandangan Wang Fu-chih tentang puisi dikenal sebagai teori Ch‘ing dan Ching. Kata-kata ch'ing dan ching dipakai untuk merujuk pada dua wilayah realitas yang berbeda. Ch ‘ing merujuk pada realitas batin dan ching merujuk pada pengalaman visual penyair yang berada di luar pikirannya. Dalam bukunya Ching-chai Shih-hua, Wang Fu-chih mengatakan, “Jlka kau tidak memahami bahasa ching, bagaimana kau dapat memahami bahasa ch 'ing ”

Seperti Abdul Qahir al-Jurjani, Wang Fu-chih memandang penting pengalaman visual dalam penciptaan puisi. Ia memberi contoh puisi-puisi terbaik Cina yang memperlihatkan betapa penyaimya memiliki pengalaman visual dan pengamatan indrawi yang tajam, di samping memiliki intuisi yang tajam. Kuatnya pengalaman visual penyair-penyair diperlihatkan melalui citraan-citraan visual (ching) dalam puisi-puisi mereka. Puisi-puisi Cina klasik tidak hanya menggambarkan pemandangan alam dan peristiwa-peristiwa, tetapi juga “rasa batin’’ penyaimya. Mcmapar-kan pemandangan alam dan kejadian itu mudah, tetapi mcnsenyawa-kan “rasa batin’’ (ch'ing) ke dalamnya tidak mudah. Demikianlah dalam puisi, ching hanya akan hidup disebabkan kuatnya ch 'ing, dan ch'ing hanya dapat hidup disebabkan ching. 

Keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika keduanya dipisahkan maka ching tidak akan menyentuh batin pembaca, dan tidak bisa disebut ching dalam arti sebenamya. Puisi yang baik, kata Wang Fu-chih, tidak hadir dari jiwa penyair yang tidak memiliki ke-akraban dengan lingkungan dan keadaan di sekitamya. Perasaan dan semangat puitik seorang penyair tidak akan pemah timbul jika tidak ada sesuatu yang merangsang di sekitarnya. Seorang penyair juga tidak akan dapat melahirkan puisi apabila memiliki rasa batin yang lemah dan tidak memiliki gairah serta motif yang kuat. Untuk memperkuat pendapatnya itu, Wang Fu-chih mem-berikan contoh puisi Cina karya penyair-penyair terkenal, seperti Wang Wei, Li Po, Tu Fu, Po Chu-I, dan Pao Tao-yu.

Kata Wang Fu-chih, “Walaupun jarak hubungan ch'ing dan ching itu jauh sebagaimana jauhnya hubungan antara ‘apa yang ada dalam jiwa' dan ‘apa yang ada bersama objek-objek’, namun berkat kekuatan jiwanya seorang penyair dapat menyatukan dan membuat keduanya saling mengisi, di mana yang satu tinggal dalam yang lain dan yang lain hidup di dalam yang satunya.”
Sebagai contoh, dia menunjuk sebuah sajak Tu Fu, penyair abad ke-8 M:
The lake cleaves the lands of Wu dan Ch‘u to east and south Day and night the world floats in its changing waters Of friends and family I have no word Old and ill I have only my solitary boat

Versi ini adalah terjemahan Su Kit-wong. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia lebih kurang seperti berikut:

Danau membelah negeri Wu dan Ch‘u arah ke timurdan selatan Siang malam dunia terapung atas air yang senantiasa berubah Tentang kawan-kawan dan keluargaku tak perlu diomongkan Tua dan sakit-sakitan milikku hanya perahu kesunyian
Danau membelah negeri Wu dan Ch‘u arah ke timurdan selatan Siang malam dunia terapung atas air yang senantiasa berubah Tentang kawan-kawan dan keluargaku tak perlu diomongkan Tua dan sakit-sakitan milikku hanya perahu kesunyian Ch'ing dan ching menyatu dalam puisi ini, sama seperti keadaan pengalaman kita menyatu dengan sesuatu yang ada di luar diri kita, walaupun ia berada di luar diri kita. Menurut Wang Fu-chih, puisi tidak dapat disamakan hanya dengan serangkaian kata-kata yang disusun dengan aturan tertentu, dan juga tidak bisa dipandang sebagai perasaan yang disugestikan melalui kata-kata. Di dalam puisinya, seorang penyair mendedahkan chih, yaitu perasaan, ide, pikiran, renungan atau kearifan. Dan di sebalik puisi ialah spirit yang berada “di sebalik kata-kata”. Makna (yi) yang sebenamya dari puisi berada di tempat “di mana tidak ada kata-kata”. Ia dikomunikasikan dengan cara menyembunyikan-nya dalam citraan dan nada, dalam tamsil dan metafora, dan dalam unsur-unsur puitik lain yang penting.

PRELUDE
I

Di atas laut. Bulan perak bergetar Suhu pun melompat Di bandar kecil itu. Aku pun dapat Menerka. Seorang pelaut mengurusi jangkar

II

Siapakah bertolak bersama pelaut-pelaut itu?

Angin senja dari benua. Sesekali suara sauh Siapakah yang berseru bersama pelaut-pelaut itu?

Langit yang biru, bisik-bisik. Sesekali bayang-bayang negeri jauh

Ill

Dua nelayan Madura terjun ke sampannya Angin tak menyuruh mereka, dingin yang baja Seperti kata nenekmoyangnya, mereka lepaskan mantera Seperti kata nenekmoyangnya, engkau hanya menawarkan angin utara
IV

Angin akan kembali dari bukit-bukit, menyongsong malam hari Angin yang tidur siang hari, yang kedengaran membetulkan kemarau

Angin yang tahu, ke mana arah musim ini mati Ke laut: membujuk nelayan. Suara yang lirih sesekali
1967

Nyanyian Seorang Petani


Berilah kiranya yang terbaik bagiku
tanah berlumpur dan kerbau pilihan
Bajak dan cangkul
Biji padi yang manis

Berilah kiranya yang terbaik
angin mengalir
hijan menyerbu tanah air
bila masanya buahnya kupetik
ranumnya kupetik

(1965)

SAJAK SAMAR


Ada yang memisahkan kita, jam dinding ini
ada yang mengisahkan kita, bumi bisik-bisik ini
ada, Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri.

1967

SARANGAN


Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke dalam kolam
membasuh luka-lukanya
dan selusin dua sejoli
mengajaknya tidur

1967

KALIANGAT


Bulan gerimis kembali
Seorang kelasi berbisik dalam nyanyi
Tunggal ngungun ngangap ombak
Tinggal kapal-kapal. Kapan bertolak

1967

BANGUN


Bangun! Matahari yang kaupuja, kemarin gemilang
dan burung-burung berkibar bagai daunan
di depan jendelaku kau jenguk pagi, mawar mengembang
sebelum kembali kucium jejak musim hujan

1967

PELABUHAN BANYUWANGI

Bagai matahari, bulan jadi ombak
Angin pun kemarau
Tapi masih ada kelasi, berdiri di geladak
Memperhatikan pelabuhan, Mengertap pada pesisir

Kelasi yang percaya laut 'kan pasang, seketika
Kelasi yang tahu angin gaib 'kan berembus, seketika
Yang mengalir ke dermaga, tali-temali, dan tiang yang jelaga
Seketika kita tak mengerti.
Lampu-lampu pelabuhankah yang bersuara ?

1967

ENGKAU MENUNGGU KEMARAU

Di Guest House
Engkau menunggu kemarau
Hari hampir malam
Membersihkan pelabuhan

Sebelum engkau berdiri
Pergi
Di langit lembayung terdengar suara awan
Baahwa rawan sudah kusiapkan
Bahwa kesal sudah kaudiamkan

1968

ANGIN: MENDESIR LAGI

Angin: mendesir lagi
Hampir mengantuk
Ada Sepi
Berbisik di dahan-dahan pohon
Lagi tahu, gerimis turun

Di luar kamar yang tembaga
Di luar rongga kata
Engkau gemetar karena musim
Cemas dalam kata
Dan tahu: ada yang tiada
Bangkit di jendela

Dan mungkin: senja

1968

SAJAK KABUR


Angin akan pergi, meninggalkan kursi tua itu
dan sebuah beranda pun menunggu
terik siang, dilepaskan waktu
ruang menyelenggarakan sunyi untukmu

adalah sesekali, kemarau yang membakar-bakar
adalah sesekali, pohon-pohon terpencil di luar
dan kita pun duduk di bangku tua
bercerita kepada senja, kisah lama

lengit lembayung itu, adalah sepasang cemara
langit busung itu, adalah langit percakapan kita
sebuah ruang menyelenggarakan sunyi
hingga nanti, kembali tak singgah di sini lagi

1968

DAN BAJUMU

Pasang bajumu. Dingin akan lalu melewat
menyusup dekat semak-semak pohon kayu
Tapi bulan belum kelihatan, puncak-puncak bukit suda
Berhenti membandingkan dukamu, sehari keluh kesah.

MALAM LAUT

Sekarang,
dingin lembab lagi
Di pantai engkau mencari
pasir penuh bulan
Di atas ombak
Di muatan penuh perahu nelayan
Menyuruh camar
menghalau angin
menutup semenanjung
Dan laut tanpa ujung

Sekarang,
dingin lembab lagi
Di pantai engkai mencari
Senja yang menyatu dengan bumi
baru ada sunyi
Dan tahu, ombak tidak sendiri

1968

BANGKU-BANGKU TAMAN

Bangku-bangku taman di bawah pohon rimbun, minta kita
marilah datang sepasang sepasang
melihat, mungkin bekas pertemuan kita
coretan nama yang asing pada pohon, ditinggalkan terik siang

rumput-rumput menjadi hijau, kehadiran kita
dan kita jadi terpencil dihalau suara burung
suaramu lelah dalam angin, seketika
dongeng pun luruh, dongeng yang dahulu

ENSOI

Suara malam, hanya dedaunan
Gugur diusir angin ke beranda
Dari jauh kemarau. Almanak lepas lagi
Melemparkan bumi yang mati

Dan dimanakah kau sekarang? Berdiri
Setelah sibuk mengurus matahari
Setelah sibuk membuat abstraksi
(dan jauh Laut Merah yang pasang abadi)

Di Qur'an kini hanya aljabar
Beratus-ratus persamaan tersamar
Soal-soal ujian yang belum selesai
Kini terjamah lusuh helai-helai

Aku tak mengurusnya lagi
Jemu. Cahaya sebentar datang, lalu hilang kembali

 Kekuatan Berfikir Positif 
Google Ping | Ping Blog Search | Add Url | Google Master | Bing Master | Site Value | Seo Jerman | Freewebsummission | Relevan Mobile